Tulisan ini menceritakan tentang punggung seseorang yang saya lihat dan masih saya ingat sampai hari ini.
Beberapa tahun lalu saat saya duduk di bangku SMP saya pernah mengagumi seorang perempuan teman sekelas yang duduknya berjarak dua meja di depan saya. Saya sudah hafal dengan punggungnya. Hampir selama dua tahun saya selalu melihat punggungnya dari meja saya dari hari Senin sampai dengan Jumat.
Juga tak jarang saya melihat punggungnya saat berjalan memasuki gerbang sekolah. Saya dan dia datang hampir bersamaan. Dia diantar oleh tukang ojek, saya diantar oleh Bapak. Saya masih ingat dia berjalan lebih dulu melewati gerbang sekolah, berhenti untuk bersalaman dengan beberapa guru dan saya membuntuti dari belakangnya.
Punggung itu selalu saya ingat setiap saat. Hampir tiap malam saya menanyakan tugas atau PR lewat SMS, lalu berlanjut ngobrol hal di luar pelajaran. Sampai kami lulus SMP pun saya masih ingat punggung itu.
Pacar saya waktu SMA adalah teman dekat perempuan yang memiliki punggung yang saya kagumi itu. Pacar saya pun tahu kalau saya memiliki kekaguman dengan perempuan yang mempunyai punggung itu. Tidak jarang pacar saya meledek saya ketika kami berkencan.
Setelah lulus SMA, saya sudah tidak pernah lagi melihat punggungnya. Sampai pada beberapa bulan sebelum pandemi.
Di tengah me time saya di salah satu mall di Jakarta, saya melihat punggung itu lagi. Bergandengan tangan dengan suaminya. Jarak antara saya dan punggung itu hanya terpaut dua anak tangga, terbersit untuk menyapa, tapi lidah saya tidak mampu berbicara.
Satu yang saya sesali. Sewaktu SMP sampai dengan terakhir kali saya melihat punggungnya, saya tidak pernah mengutarakan kalau saya mengaguminya.
0 saran:
Post a Comment