Di luaran, Rabu malam, bintang menghiasi langit Jakarta. Sudah lama langit Jakarta tidak sesemarak malam itu. Terhampar dari barat ke timur, dari selatan ke utara. Aku melihat langit dari jalanan yang macet karena besoknya adalah liburan panjang. Dan ia akan pergi berlibur.
Sesampainya di rumah, aku buka internet dan menuliskan kata "Bintang" keluarlah semua tentang bintang, tentang rasi, bahkan nama-nama pesepakbola yang digelari pemain bintang. Aku baru tahu, kalau bintang suatu saat akan mati juga, meledak, dan ternyata bintang bisa mengeluarkan cahaya sendiri. Bintang yang akan mati akan lebih terang dari biasanya dan meledakan diri dengan sebelumnya ia akan mengeluarkan energi yang setara dengan energi matahari yang dikeluarkan seumur hidupnya (Supernova). Mengapa ketika bintang mengeluarkan cahayanya yang paling terang adalah pertanda kalau ia akan meledak dan mati? Meruntuhkan sebagian dirinya dan juga dapat menghancurkan sekitarnya karena gelombang kejut akibat ledakannya.
Tapi ledakan yang ditimbulkan ternyata mampu membuat kembali bintang-bintang baru. Ledakannya mampu menciptakan kehidupan baru di langit sana. Bahkan planet baru. Sesaat setelah membaca tulisan tentang bintang di internet, aku membayangkan dirinya meledak dihatiku dan malah menciptakan kehidupan cinta dalam diriku yang baru.
Namanya Bintang jika diartikan dalam Bahasa Indonesia. Katanya itu adalah nama kedua karena sewaktu kecil nama pertamanya diganti karena terlalu berat sehingga ia sakit-sakitan. Ia juga menyukai bintang. Ia pernah bercerita sewaktu kecil ia sering melihat langit dan sering menemukan tiga bintang yang berjejer, dan bintang itu ia ingat baik-baik dalam ingatannya. Ia juga pernah bercerita, kalau langit Jakarta jarang sekali ada bintang, di Bogor pun juga sama.
Seperti bintang di langit, ia pun bercahaya. Ditambah spotlight manusia juga sering diarahkan kearahnya. Tak terkecuali spotlight aku. Hari-hari nya bercahaya, dan aku tergila-gila padanya.
"Hai, teman-temannya banyak banget diluaran. Sudah lama langit Jakarta tidak sesemarak ini. Besok hati-hati ya menyeberang ke pulau nya. Selamat berlibur panjang. Malam."
"Hah, masa? Oh iya lumayan deng. Sama-sama ya"
Sebelum aku tidur, aku merapalkan doa. Semoga ia cepat pulang. Persis seperti yang dilakukan mantan kekasiku yang merapalkan doa ketika aku pergi jauh.
0 saran:
Post a Comment