Rindu kembali mengganggu hidupku. Ia datang mengecup keningku saat malam datang, atau saat adzan subuh berkumandang dari masjid dekat rumah. Terakhir kali ia mengganggu beberapa bulan yang lalu -saat aku jatuh hati kepada Bintang. Dan rindu beranjak pergi ketika aku mengatakan kalau aku suka kepada Bintang dan ia juga menyukaiku namun hanya sebatas teman.
Rindu yang kurang ajar.
Kali ini ia datang lagi, entah untuk siapa, bukan untuk Bintang, bukan untuk mantan kekasih yang sebentar lagi akan naik pelaminan. Tiap hari rindu rajin menggangguku, kadang saat aku menuliskan tulisan untuk kerjaan tanpa permisi ia datang mengecup keningku, dan buyarlah semua konsentrasiku.
Kemarin malam saat ia sibuk mengganggu waktu istirahat malamku, aku membaca puisi Aan Mansyur yang berjudul Menenangkan Rindu, namun bukannya rinduku berkurang, malah rindu makin kurang ajar. Ia membuatku tidak bisa tidur sampai pagi menjelang.
Rindu kali ini sangat menyiksa. Kalau bisa ingin rasanya menangkap dan melipat rindu di buku catatan harianku yang sudah penuh itu. Atau melarungkannya ke laut. Tetapi rindu memang kurang ajar, ia bisa seenaknya pergi ketika aku ingin menenggelamkannya di laut, atau melipat-lipatnya dalam buku harian lalu menguncinya di lemari pakaian.
Rindu kadang datang dalam wujud yang tidak kita kenal. Dan kurang ajarnya lagi, rindu bisa datang dari wangi parfum orang-orang berduit.
Waktu itu aku pernah sengaja memancing rindu saat ia tidak kunjung datang. Aku tahu rindu akan datang jika aku mencium parfum mahal. Seharian, aku sibukan diri berjalan-jalan dari satu toko parfum ke toko parfum lainnya. Di setiap toko, aku meminta izin untuk mencium satu persatu parfume yang dijual, dan aku berhasil memancing rindu pada parfum ke sepuluh. Harumnya seperti mawar langu yang pernah mantan kekasihku simpan di sela buku sekolahnya dulu.
Rindu itu seperti bintang, ia punya energi sendiri, dan jika rindu akan mati, biasanya energi rindu yang datang sangat besar dan dada seakan ingin meledak.
Rindu memang kurang ajar. Aku pernah merindukan Bintang, oh tidak, sebaiknya rinduku kepada Bintang jangan lagi datang. Walaupun belakangan ini aku tergila-gila dengan apa yang berhubungan dengan bintang, namun ada baiknya jangan lagi rindu datang untuk Bintang. Mungkin kalau itu rindu untuk Bintang datang lagi, aku tidak akan bisa tidur bermalam-malam.
Tapi sepertinya aku sudah tidak nyenyak tidur bermalam-malam. Apakah aku rindu kepada Bintang? Semoga jangan, semoga jangan.
0 saran:
Post a Comment