Petualang pulang dengan kereta.
Melewati rel yang basah karena air mata.
Siapa itu yang bercakap di beranda?
Meninggalkan bara rokok keretek.
Lamat-lamat terlihat punggungnya menghilang ditelan tikungan jalan.
Air mata sang petualang jatuh di pusara.
Tempat ia mengubur semua kenangan yang rela tak rela ia tinggalkan.
Ia tinggalkan setangkai mawar plastik yang tak pernah melangu.
Resah ini harus reda.
0 saran:
Post a Comment