Wahid Sabillah's

Personal Blog

Sabtu dan Minggu

Leave a Comment
Kita tidak tahu berapa lama rasa peduli kepada seorang yang spesial akan hilang. Berapa lama paska putus kita bisa beranjak sempurna tidak lagi memikirkan mantan pacar? Sebulan? Setahun? Dua tahun? Empat tahun? Atau mungkin berapa lama ketika kita menjalin kasih dengan seseorang kemudian perlahan rasa sayang kita luntur digerus waktu? Berapa lama ketika cinta kita di tolak kita bisa jatuh cinta dengan individu lain lagi?

Masa-masa beranjak adalah masa transisi di diri, di sinilah kedewasaan manusia diuji, dan di sini pulalah manusia memilih untuk terus terpuruk dengan kesedihan atau bangkit mengoreksi diri untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Teman saya sudah berpacaran sangat lama, si pacar terus menerus menanyakan kapan berani melamar dan melangsungkan ke jenjang pernikahan. Lama-lama teman saya merasa tertekan dan bosan dengan pertanyaan dari sang pacar yang terus diulang-ulang. Perlahan teman saya merasa pacarnya tidak seasik yang dulu, "Gue nanti pasti ngelamar dia kok" katanya saat kita ketemu untuk makan tengah malam setelah jalan-jalan.

Akhirnya, mereka putus setelah berpacaran selama lebih dari lima tahun. Si lelaki terpuruk sedih, dan si wanita ternyata ada pria lain yang langsung berani melamar, mereka pun menikah.

***

Seminggu ini saya dicengin dengan teman-teman satu divisi yang kebetulan adalah atasan-atasan saya. Mereka melihat saya tidak memiliki pacar, dan itu menjadi ledekan untuk saya. Kejadian terakhir adalah pagi tadi. Pagi tadi, saya diledekin dengan atasan saya. Dia mengirimkan WhatsApp ke saya yang berisi "Sayang weekend lo kalau lo kerja melulu, kapan punya pacar kalau weekend masih kerja, apa jangan-jangan pacar lo socmed ya?" saya terbahak-bahak membaca pesan tersebut.

Wahai kakak atasan saya yang berbahagia, kamu tidak tahu betapa gila ketika saya suka dengan wanita, setiap malam sebelum tidur saya akan menulis di kertas tentang perasaan saya kepadanya dan menceritakan tentang perasaan saya hari itu. Sampai hari ini saya masih menulis setiap malam untuk seorang yang saya kagumi di luar sana. Jadi, tunggu tanggal mainnya ya.

***

Akhir pekan ini saya habiskan di rumah saja. Menonton teve, duduk di kursi piano berjam-jam sambil melihat layar komputer dan sekali-kali memencet tuts-tuts piano, membaca kembali buku-buku yang saya punya, dan memikirkan ia yang entah sedang apa di sana. 

Kemarin saya memasak untuk makan siang saya dan Bapak, membantu Bapak membereskan vespa nya, tidur siang, dan malamnya ngobrol panjang lebar dengan keluarga.

Hari ini saya lebih banyak di kasur, tidur siang, dengerin musik, bercanda dengan adik, lalu saat saya menuliskan tulisan ini saya kembali mengantuk. Mari tidur lagi.

Oiya, Pergi nya Endah n Rhesa ini pernah banget saya alamin waktu masih pacaran dulu.


Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 saran:

Post a Comment