Quote dari Dostoevsky mengiringi saya kembali menulis di blog ini dengan rasa bersyukur. Walaupun tertulis di sana kalau Man Also needs Unhappiness. Yang dalam bahasa Indonesia-nya Lelaki Juga Butuh Ketidak Bahagiaan. Saya mendapat Quote dari Dostoevsky itu dari buku 9 Summers 10 Autumns nya Mas Iwan Setyawan.
Setelah saya googling tentang quote dari Dostoevsky itu, ternyata quote tersebut di ambil dari percakapan dalam buku yang di tulis Dostoevsky.
80% dari isi hati saya setuju dengan kalimat itu. Bagaimana seorang bisa menjadi kuat tanpa ada nya ketidak bahagiaan yang datang, bagaimana seorang lelaki bisa menjadi lebih kuat tanpa adanya halangan rintangan. Bukankah ketidak bahagiaan merupakan bagian dari ujian? dan bukankah orang yang dianggap beriman adalah orang yang telah melewati ujian yang diberikan oleh-Nya?
Dalam quote Dostoevsky itu dituliskan "In The Exact Some Way, and In Perfectly Equal Proportion" dan menurut saya itu benar sekali. Sebagai manusia, hidup ini harus seimbang, jangan melulu mengharapkan senang, dan bahagia. Manusia juga butuh ketidak bahagiaan. Dengan adanya ketidak bahagiaan kita bisa menghargai saat bahagia datang, begitupun sebaliknya.
Kembali ke paragraf satu tentang rasa syukur yang saya rasakan saat saya menuliskan tulisan ini.
Saya bersyukur sekali ada orang bijak yang mau menuliskan quote itu, dan saya bersyukur quote tersebut sampai pada saya. Waktu pertama kali saya membaca quote itu dalam buku 9 Summers 10 Autumns, ketika itu saya sedang rehat mengerjakan tugas akhir saya yang susah, dan saya merasa kalau tugas akhir ini tidak selesai selesai. Pada waktu itu saya mengambil satu buku di rak koleksi buku yang jumlah bukunya masih bisa dihitung oleh jari. Saya mengambil buku itu, saya membaca secara tidak berurut. Karna buku itu adalah kumpulan cerita, jadi saya tidak perlu membaca buku 9 Summers 10 Autumns secara urut dari Bab awal sampai akhir.
Saya membuka tengah buku itu, dan langsung mendapatkan kalimat yang dikutip oleh mas Iwan Setyawan dalam bukunya. Seketika saya terdiam, melihat kembali layar laptop saya yang masih menunjukan lembar pengerjaan Bab 4 tugas akhir yang belum selesai. Dalam hati saya berkata "Apakah yang saya sedang jalani ini adalah sesuatu yang dituliskan Man Needs Unhappiness?". Lama saya memikirkan kalimat ini, dan saya mencoba bertanya lagi kedalam diri saya, "kira kira apa Happiness yang sudah saya dapatkan sehingga Unhappiness ini datang?", dan sayangnya tidak semua pertanyaan harus mendapatkan jawaban, pada waktu itu saya tidak mendapatkan jawabannya.
Namun sehabis saya membaca quote itu, saya kembali meletakkan buku karya mas Iwan Setyawan itu, saya tidak jadi membaca buku itu dan saya kembali mengerjakan Bab 4 tugas akhir saya.
***
Pada hari itu juga, draft Bab 4 tugas akhir saya selesai saya kerjakan. Setelah selesai mengerjakannya saya keluar dari kamar, duduk di teras rumah, memandangi langit sore dengan suara ibu ibu ngerumpi di sebelah rumah. Tiba tiba saya terfikir kembali dengan quote Destoevsky yang saya baca tadi. Lama saya memikirkannya, tiba tiba saya tersenyum, 20% dari hati saya yang kurang setuju dengan quote tersebut berkata.
"Do you understand that along with unhappiness, in the exact some way, and in perfectly equal proportion, there must be Happiness"
gue bahagia apa yang gue punya skrng bang!
ReplyDeleteAlhamdulillah :D
Deletekita bisa memilih untuk bahagia atau tidak bahagia dengan apa yang kita lakukan :)
ReplyDeletebersyukur dan bahagialah :))
iya bener banget. kalaupun lagi gak bahagia, coba buat cari kebahagiaan ditengah ketidakbahagiaan itu. That along with unhappiness there must be happiness.
DeleteDuh, suka banget dengan tulisan-tulisan yang berangkat dari kegusaran seperti ini. Buatku, bahagia atau tidak bahagia itu sepantasnya dinikmati. Pribadi seseorang bisa diibaratkan sebuah kayu biasa. Dan dari setiap perjalanan hidupnya, ia dipahat. Pahatan itu rasanya sakit. Namun, siapa yang bisa menggunakan pahatan itu dengan eloknya, itu yang membuat karakternya terbentuk dan menjadi lebih baik. Ah, ngomong apa aku ini. Sedikit ngawur, maafkanlah :p
ReplyDeleteSalah satu alasan saya ngeblog ya untuk memuntahkan kegusaran yang ada dalam fikiran saya mbak. Wah analoginya bagus mbak :D
Delete