Pada saat saya menuliskan tulisan ini saya dihinggapi rasa ngantuk dan lelah yang amat sangat.
Kemarin saat pulang mengantar Ibu dari pasar, ponsel Ibu berbunyi, dan terdengar suara Ibu mengucapkan "Innalilahi Wainna Ilaihi Rojiun", seketika Ibu menangis tersengguk-sengguk, dan saya yang sudah dapat menebak siapa yang berpulang mendadak lemas saat mengendarai sepeda motor menuju rumah.
Kabar duka itu datang dari Nenek saya. Nenek yang saya sayangi dan saya menyesal pernah memarahinya saat beliau sakit. Nenek yang pernah saya ceritakan pada postingan yang berjudul Cemas. Saya berterimakasih kepada teman pembaca yang sudah bersedia mendoakan Nenek saya setelah membaca postingan tersebut.
Malam setelah mendapatkan kabar kalau beliau sudah berpulang, setelah mengurus pemakamannya yang akan diadakan keesokan harinya (hari ini) di daerah Cilandak, saya bersama Ibu dan Bapak pergi menuju rumahnya di Tanjung Priok. Sepanjang jalan menuju perjalanan terbayang senyum wajahnya, dan ramahnya seorang nenek yang pastinya sangat menyayangi cucu-cucunya. Sepanjang jalan menuju Tanjung Priok, di bawah sorotan lampu jalan yang temaram tak terasa pipi saya sudah basah dengan air mata, muncul kenangan bersama beliau di dalam kereta Matarmaja setahun yang lalu, ketika Saya, Ibu, Via (adik pertama) dan beliau menuju Tulungagung. Pada waktu itu beliau sudah sakit, namun dengan semangat untuk bertemu kakaknya yang berada di Tulungagung beliau tetap berangkat untuk mengunjungi kakaknya.
Begitu sampai di rumah duka, saya langsung menghambur masuk dan melihat jasad nenek yang saya cintai sudah terbujur kaku dengan muka yang ditutupi kain putih, airmata saya kembali tak terbendung. Doa-doa saya panjatkan, surat Yasin saya baca berulang kali, saya berdoa semoga beliau diberikan jalan yang lapang.
Di rumah duka saya mendengar banyak orang yang mengatakan hal hal baik tentangnya. Orang orang silih berganti mendatangi rumahnya, mereka memanjatkan doa, dan ada beberapa dari mereka yang menitikan air mata juga. Nenek saya ramah kepada semua orang dan murah senyum, mungkin itu salah satu yang menyebabkan ketika beliau wafat banyak tetangga yang mengunjunginya untuk terakhir kali.
Nenek saya sudah sakit cukup lama, sekitar dua tahun. Meninggalkan kami pada usia sekitar 82 tahun, dan ya beberapa jam yang lalu saya berada di liang kuburnya untuk menguburkan bersama Bapak dan Yahfi (adik saya yang paling kecil). Ini adalah pengalaman pertama saya mengubur jenazah, ada rasa takut awalnya, tapi rasa takut itu hilang seiring dengan proses pemakaman yang dilewati. Pengalaman itu kembali mengingatkan saya kalau saya nanti akan berada di tempat itu juga, di liang tanah yang gelap berukuran tidak lebih dari 1x2 meter seorang diri.
Setelah selesai menguburkan, selama petugas merapikan tanah makam saya bertanya dalam hati. Apakah nanti ketika saya sudah tiada berapa banyak orang yang akan mengantarkan saya ke makam? Apakah orang orang yang datang akan bercerita tentang kebaikan yang pernah saya buat, atau sebaliknya? Apakah akan banyak orang orang yang mendoakan kepergian saya? Apakah saya akan terus mendapatkan hadiah panjatan doa di setiap solatnya mereka? Apakah saya akan mati dalam keadaan Khusnul Khotimah?
Seketika saya teringat dengan satu postingan Raditya Dika yang menginspirasi saya untuk menamai judul postingan ini sama dengan judul postingannya (karna memang kita sama sama dalam situasi selesai pemakaman). Kata Radit di Postingan Blognya
"Kita hidup di dunia ini seolah-olah kematian tidak exist. Kita makan, kita bercanda, kita karaoke, kita jatuh cinta. We forget about death. We are too busy with our distraction. But it is there. And when it hits, it hits hard."
Kita sibuk pergi, ketemu teman teman, tertawa, lupa atau pura pura melupakan kalau ternyata setiap detik berlalu semakin dekat kita pada kematian, dan pertanyaan kembali muncul, Apakah kita sudah siap untuk mati? dan apakah kita sudah mempersiapkan bekal yang cukup untuk kehidupan selanjutnya? Kehidupan yang ada awalnya dan tiada akhirnya. Pertanyaan yang saya buat ini menohok diri saya sendiri.
Tanah makam sudah berbentuk gundukan sempurna, bunga bunga tanda cinta dan belasungkawa telah di tabur, air wangi mawar sudah diguyur, tanda jenazah sudah sempurna dikubur. Saya meninggalkan tempat pembaringan terakhir nenek yang saya sayangi itu, sebait doa saya panjatkan, semoga beliau mendapatkan tempat yang terindah di alam sana.
Aaamiiin
0 saran:
Post a Comment