Wahid Sabillah's

Personal Blog

Malin Kundang Bukan Anak Durhaka [Bagian 2]

2 comments
Aku duduk bersama Ibu dan perempuan berkulit kuning dan bermata sipit itu di meja makan di rumahku. Hari ini aku mengajaknya makan malam bersama Ibu, sekaligus memperkenalkan dirinya kepada Ibu.

"Kamu tidak takut berpacaran dengan anak durhaka Dea?" tanya Ibu kepadanya, mata Ibu melirik ke arahku yang sedang menyendokan sup ke mulutku.

"Aku kan bukan anak durhaka Bu." jawabku spontan kepada Ibu. Dea tersenyum simpul. 

"Iya Bu, Em kan bukan anak durhaka, dia sudah bercerita tentang namanya yang unik itu kepadaku."

"Em?" Ibu terheran mendengar panggilan itu.

"Iya Bu," Aku telan kuah sup terakhirku "kita memanggil satu sama lain dengan inisial huruf pertama pada nama kita. Dia memanggilku Em, dan aku memanggilnya De," lanjutku.

Masih dengan muka herannya "Kalian berdua bisa saja," ucap Ibu yang ekspresi wajahnya berangsut berubah meledek dan diikuti tawa. "Dea sudah diceritakan apa saja oleh Malin?" sambung Ibu.

"Tentang masa kecilnya yang selalu dibully teman temannya sewaktu SD."

"Baru itu?" tanya Ibu "Tentang alasan namanya yang Ibu berikan sudah dia ceritakan belum?"


Dea mengangguk untuk pertanyaan pertama, dan menggeleng untuk pertanyaan.


"Oke sesudah makan malam ini, akan aku ceritakan tentang namaku yang diberikan oleh orangtuaku." aku berdiri membawa piring kosong bekas makanku ke arah rak cucian piring.

Di ruang tengah rumahku, dengan suara teve yang aku kecilkan aku mulai bercerita tentang namaku yang kontroversial itu kepadanya.

Aku duduk bersandar sambil memeluk bantal yang diletakan di setiap bangku. "Oke De, kamu siap mendengar ceritaku lagi?".

Dia mengangguk.

***

Waktu aku lahir, Ibu dan Ayahku sedang tergila gila dengan perubahan. Mereka adalah orang orang yang percaya kalau sisi negatif bisa sebagai pelajaran untuk menjadi baik. Mereka selalu percaya kalau segala sesuatu yang menurut orang orang tidak baik pasti bisa berubah menjadi baik. Dan itu yang membuat mereka berani memberikan nama yang nyentrik untuk anaknya.

Walaupun begitu, setelah kejadian pembulian karna namaku Malin Kundang. Mereka mengubah namaku, dan menuliskan namaku dengan M Kundang karna mereka kasihan kepada diriku.

Namaku adalah nama dari seorang anak yang menurut cerita rakyat di Sumatera Barat. Namaku adalah nama dari seorang anak yang katanya durhaka yang kemudian dikutuk oleh Ibunya menjadi batu. Ibuku tidak pernah percaya dengan cerita itu, dalam kamus hidup Ibu, Ibu mempunyai prinsip "Ibu mana yang tega mengutuk anaknya menjadi batu?". Bukankah dalam cerita rakyat Malin Kundang, setelah Ibu Malin yang diceritakan kala itu mengucapkan "Kau anak durhaka Malin, Ku kutuk engkau menjadi batu" tak lama setelahnya ketika anaknya berangsur berubah menjadi batu, Ibu Malin yang mengutuk anaknya itu juga merasa bersalah, dan mencabut kembali kutukannya itu?

Menurut Ibu kecintaan seorang Ibu adalah tulus. Haram bagi seorang Ibu mengutuk anaknya dengan kutukan yang tidak baik. Ucapan orangtua adalah doa, dan doa dari seorang Ibu besar kemungkinan dikabulkan Tuhan. Bukankah doa yang dipanjatkan seharusnya doa yang baik baik?

Bapak setuju memberikan nama M Kundang karna semangat merubah pandangan orang kepada setiap nama. Menurutnya banyak orang di bumi ini yang bernama sama, tetapi baik atau tidak orang tersebut tergantung dari asuhan orangtuanya. Ada ribuan orang di Indonesia yang bernama Bagus dan Untung. Tetapi banyak juga dari mereka yang bernama baik bertolak belakang dengan namanya. Ada si Bagus yang ternyata kenyataan hidupnya sifatnya tidak bagus. Ada si Untung dan ternyata orang tersebut membuat keluarganya buntung.

Baik buruk dipandangan manusia adalah sesuatu yang relatif. Pada orang tertentu memandang namaku adalah nama yang tidak baik, tetapi orang yang mengenalku juga banyak yang memandang namaku adalah nama dari seorang yang mampu menangkis seluruh pandangan buruk.

Aku selalu juara kelas pada waktu SD, beberapa kali memenangkan lomba pidato, bisa bermain musik, suka menulis, mencintai orangtua-ku, itu semua bukti kalau ternyata nama dari seorang yang menurut orang buruk ternyata tidak berlaku selamanya. Dalam namaku tidak ada yang salah, dalam namaku tidak mengandung arti buruk. Sekali lagi, baik dan buruk itu adalah relatif.

***

"Begitulah sayang tentang asal usul orangtuaku memberikan namaku Malin Kundang, yang semenjak aku dibuli di SD berubah menjadi M Kundang." aku menutup penjelasanku kepadanya yang serius mendengarkan ceritaku.

"Mau siapapun namamu, mau Malin Kundang kek, mau Maling Kundang kek, M Kundang kek yang penting aku memanggilmu dengan sebutan EM." katanya tersenyum kepadaku.

Malam itu aku habiskan dengannya dengan memandang langit. Berhitung bintang bintang dan dia menceritakan tentang kegilaannya dengan benda benda langit.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

2 comments:

  1. Makasih banyak.... Banyak banget kata-kata positig dan bijak yang bisa gua ambil dari cerita ini. Dan dengan melihat cerpen ini, gua juga bisa belajar lebih giat untuk kelanjutan cerpen fiksi gua. Thx, lo salah satu guru diantara banyaknya orang yang sudah gua pandang untuk menjadi pijakan dalam menulis :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. My Pleasure is mine. Kita masih sama sama belajar kok. Mari kita belajar lebih giat lagi untuk menulis :)

      Delete