Ayah dan Ibuku tidak gila memberikanku nama Malin Kundang.
Selama aku tumbuh berkembang, sudah banyak orang orang yang mencibir namaku. Banyak dari mereka yang menyebut orangtua ku tidak waras karna memberikanku nama Malin Kundang. Mereka yang mencibir diriku memberitahuku kalau namaku adalah nama yang buruk, nama dari seorang yang durhaka dan dikutuk menjadi batu oleh Ibunya, tapi sewaktu mereka menceritakan itu, aku tidak percaya, karna aku sama sekali belum pernah mendengarkan cerita Malin Kundang yang orang bilang anak durhaka itu secara utuh.
Sewaktu aku tumbuh besar, Ibu dan Ayah tidak pernah menceritakan tentang cerita rakyat atau legenda yang sering diceritakan orangtua lainnya. Ibu dan Ayah selalu membuat cerita sendiri untuk diceritakan kepadaku sebelum aku tidur. Jadi aku tidak mengenal apa itu Malin Kundang, apakah dia benar benar anak durhaka yang dikutuk menjadi batu. Ibu dan Ayah selalu menceritakan tentang cerita cerita fantasi atau kejadian sehari hari, tentang anak manusia yang diasuh srigala, tentang anak yang memiliki sayap, tentang kancil yang berhasil mengelabui kera, dan banyak lagi cerita yang Ibu dan Ayah ceritakan kepadaku.
Aku baru tau tentang cerita lengkap Malin Kundang si anak durhaka pada waktu kelas 3 SD. Pada waktu itu Ibu Tjukaesih yang menjadi guru sekaligus walikelas menceritakan dengan rinci cerita Malin Kundang si anak durhaka itu di depan kelas. Sebelum bercerita, Ibu Tjukaesih menyuruh aku yang duduk di tengah barisan untuk duduk di paling depan.
"Ibu akan menceritakan tentang Legenda Si Malin Kundang, anak anak tolong dengarkan cerita ini dengan baik ya" Ibu Tjukaesih melirik ke arahku.
Ibu Tjukaesih menceritakan secara rinci dan jelas cerita si Malin Kundang anak durhaka yang dikutuk menjadi batu oleh Ibunya sendiri. Bagi sebagian teman yang sudah tau cerita itu, mereka langsung mencela diriku kalau aku nanti akan berubah menjadi batu. Waktu itu aku sudah kebal dengan mereka yang mencelaku, celaan mereka tidak jauh jauh dari anak durhaka yang dikutuk menjadi batu bersama istri dan kapal-kapalnya di tepi pantai oleh Ibunya sendiri. Pada waktu itu aku tidak mempunyai alasan yang tepat untuk mementahkan semua celaan tentang kutuk mengkutuk itu.
"Malin Kundang teman kita dikelas ini tidak seperti Malin Kundang di cerita yang Ibu baca barusan. Malin Kundang teman kita ini adalah Malin Kundang yang baik, rajin mengerjakan tugas, dan selalu berhasil meraih peringkat teratas." kata Ibu Tjukaesih selesai menceritakan secara rinci cerita Malin Kundang si Anak Durhaka sambil mengusap kepalaku.
Setelah pulang sekolah, Aku langsung menceritakan kepada Ibu tentang pengalamanku kembali dicela oleh teman teman karna cerita Malin Kundang si Anak Durhaka. Aku juga menceritakan kalau Ibu Tjukaesih membelaku dan memberitahu teman teman kalau aku bukan Malin Kundang yang durhaka seperti di dalam cerita. Pada waktu itu, Ibuku hanya tersenyum dan mengecup keningku.
Sepulang Ayahku dari kantor, Aku juga menceritakan hal serupa kepadanya. Ayah hanya memelukku dan mengecup kedua pipiku. Aku bertanya kepada Ayah
"Ayah mengapa Ayah menamaiku Malin Kundang?"
dan Ayah membalas dengan perkataan "Suatu hari ketika kamu dewasa, kamu akan tahu mengapa Ayah dan Ibu mu memberikan nama Malin Kundang kepadamu."
Malam nya setelah Aku menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan belajar dengan dibantu oleh Ibu, Aku kembali mengatakan pertanyaan yang sama kepada Ibu.
"Ibu mengapa Ibu memberikan nama Malin Kundang kepadaku?"
Ibu memeluk diriku, dan mengusap-usap punggungku. Hanya kalimat "Yuk Tidur!" yang keluar dari mulut Ibuku pada malam saat aku menanyakan pertanyaan yang mulai sering aku tanyakan itu.
***
"Begitulah sayang cerita masa kecilku yang baru bisa kubagikan kepadamu. Hari mulai larut, aku harus pulang menemani Ibuku, kamu akan Kuantar pulang, Aku tidak ingin kamu sakit lagi seperti kemarin". Wanita dengan mata sipit dan kulit kuning itu tersenyum menampilkan gigi nya yang rapih "Aku masih penasaran, lanjutkan saja ceritanya" kata Wanita itu. "Nanti pasti aku lanjutkan, sekarang kita harus pulang, kamu masih belum sehat benar, Janji!"
Aku dan dia bangkit dari tempat yang sudah hampir satu sengah jam kita tempati. Dia mendekap lenganku, kita berdua berjalan dibawah sinaran bulan penuh malam itu.
jadi nama kau malin kundan toh...
ReplyDeleteMalin, maafin emak ya...
ReplyDeleteIya Amak, engkau Aku maafkan :))
Deleteserius nama lo malin kundang beneran?
ReplyDeleteDuh, tag nya kan Fiksi dan Cerpen mas :D
Delete