Wahid Sabillah's

Personal Blog

Cemas

Leave a Comment
Banyak cerita yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Semua cerita itu saling berlomba-lomba untuk dimuntahkan dari fikiran saya untuk dituliskan di tempat ini. Sampai sampai saya bingung harus menceritakan yang mana terlebih dahulu.

Oke saya akan mencoba menceritakan satu persatu, semoga tulisan kali ini bisa dimengerti.

Pertama.
Saya baru saja menyelesaikan ujian akhir semester di kampus. Yang berarti, tinggal tersisa satu ujian terakhir yang disebut ujian utama di kampus. Ujian utama itu dilaksanakan setelah libur lebaran. Saya mendapat jadwal tanggal 16 Agustus 2014.

Ujian utama ini tidak seperti ujian akhir semester. Pada ujian utama, saya dan teman teman ujian secara terpisah. Pada ujian utama saya harus bercampur dengan mahasiswa dari kelas lainnya, begitu juga teman teman sekelas saya. Ujian utama nanti akan menjadi ujian tertulis terakhir yang akan saya jumpai, sebelum saya maju sidang skripsi.

Kedua.
Dosen pembimbing saya sudah meminta saya membawa seluruh penulisan skripsi yang saya buat pada pertemuan selanjutnya. Alhamdulillah saya mendapatkan dosen pembimbing skripsi yang baik, pengertian, dan tidak neko neko. Awalnya saya sudah takut kalau dosen pembimbing skripsi saya nanti meminta judul skripsi yang saya tidak mengerti. Tetapi Alhamdulillah dosen pembimbing skripsi saya baik hati, mau mendengarkan mahasiswa bimbingannya, dan selalu bersedia menjawab pertanyaan yang saya lontarkan ketika saya tidak mengerti, atau ketika saya menemukan jalan buntuk dalam proses penulisan dan pembuatan aplikasi.


Ketiga.
Minggu ini adalah minggu terakhir di dalam bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan kali ini Alhamdulillah bisa saya lewati bersama sama dengan keluarga yang utuh, tanpa kurang satu anggota keluarga pun. Satu yang sering membuat saya cemaskan di penghujung bulan Ramadhan adalah, apakah saya masih bisa berjumpa di Ramadhan selanjutnya? Jika masih bisa apakah anggota keluarga saya lengkap seperti tahun sebelumnya? Bagi saya, si manusia penggila prosesi, setiap hari yang dirayakan bisa menjadi hari yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Menyenangkan jika saya bisa merayakan hari itu bersama sama dengan orang yang saya cintai, dan menyedihkan ketika teringat apakah hari raya selanjutnya saya masih bersama sama dengan mereka. Bagaimana jika mereka yang merayakan hari raya di tahun sebelumnya pergi meninggalkan saya di hari raya selanjutnya?

Ramadhan selalu berhasil memunculkan sisi melankolis yang diidap diri saya. Tidak jarang saya menangis saat bulan Ramadhan tiba. Bulan satu ini berbeda dengan bulan lainnya, air mata saya seperti air dalam selaput, yang setiap saat bisa pecah kapan saja seseorang menyentilnya.

Ramadhan mengingatkan saya kepada seorang saudara saya, yang saya anggap sebagai adik, yang dititipkan Ibu nya kepada orangtua saya dua minggu sebelum Ibu nya menyusul kepergian Bapak nya yang lebih dahulu pergi meninggal dunia, meninggalkannya untuk selama lamanya. Adik saya itu bersekolah di pondok pesantren, Bapak saya yang memasukannya ke sekolah pesantren. Adik saya itu hanya bisa mengunjungi kami sewaktu pesantrennya libur, saat datangnya bulan Ramadhan seperti ini.

Saya salut kepadanya, di usia yang jauh lebih muda dari saya dia sudah bisa mandiri. Saya juga sering merasa sedih ketika melihatnya, melihat di usia muda, dia sudah ditinggal pergi kedua orangtuanya untuk selama lamanya. Adik saya ini bukan satu satu nya yatim piatu dalam lingkungan keluarga saya, Bapak saya juga merupakan yatim piatu ketika masih kecil. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya ada di posisi saudara yang saya anggap sebagai adik saya itu, semoga Allah memberikan kekuatan kepadanya.

Keempat.
Nenek yang saya cintai sedang terbaring sakit. Beliau sudah tidak bisa apa apa. Hari harinya dihabiskan di tempat tidur. Nenek yang dulu sering mengajak saya menginap di rumahnya, dan mengajak saya pergi untuk mengikuti senam kesegaran jasmani di Kantor Walikota Jakarta Utara itu sedang terbaring sakit. Saya meminta kepada siapa saja yang membaca tulisan ini, dengan merendahkan diri, saya memohon untuk turut mendoakan kesembuhan nenek saya.
"Aku tidak mencemaskan kehilangan harta, yang aku cemaskan kehilangan orang orang yang aku Cinta, Iman dan Agama"
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 saran:

Post a Comment