Wahid Sabillah's

Personal Blog

Menangkap Momentum

4 comments
Menangkap Momentum
Pict by Wall321

Hari Minggu kemarin saya belajar tentang Menangkap Momentum. Sebagai makhluk hidup kita pasti punya momentum.

Jadi hari Minggu kemarin saya pergi ke acara pernikahan saudara saya. Saya ikut keacara itu murni karna saya memang gemar pergi ke acara resepsi, entah itu resepsi pernikahan, atau sunatan. Alasannya jelas, makan gratis.

Pada hari itu pekarangan rumah saya sedang banjir selutut. Saya sudah malas ikut Ibu dan Bapak ke acara resepsi itu, tapi Bapak meminta saya ikut. Banjir dipekarangan rumah membuat saya agak sedikit ribet untuk naik ke atas mobil. Saya harus menggulung kaki celana bahan saya untuk naik ke atas mobil sambil menenteng sepatu yang akan saya pakai, dan tentu saya sudah memakai batik untuk resepsi.

Sempat menunggu saudara saudara yang lain di pom bensin yang sudah di tentukan. Rencananya memang akan konvoi untuk menuju tempat resepsi itu.

Sesampainya di tempat resepsi tanah tempat pijakan ke acara resepsi itu juga blok. Tanah merah membuat sepatu saya tambah berat. Dengan kaki sedikit diseret begitu sampai di jalanan beraspal untuk mengurangi beban tanah merah yang ada di sepatu saya, saya berjalan beriringan dengan saudara-saudara yang mengawal pengantin. Sampai tiba saat salah seorang saudara memanggil saya dan menyerahkan kamera sambil berkata.
"nih, jadi seksi dokumentasi lo"
Kali ini saya dikasih tugas untuk menjadi seksi dokumentasi dengan mendadak. Tapi tidak apa, saya menerima tugas itu dengan ikhlas. Disinilah saya mendapatkan ilmu tentang Momentum.

Begini, ketika menjadi sie dokumentasi saya harus lebih peka kepada kejadian sekitar. Saya berusaha untuk sepeka mungkin pada kali itu, menangkap momen dari mulai acara sambutan pernikahan, sampai dengan acara makan-makan.

Banyak momen yang saya lewatkan untuk diabadikan, ini pertanda saya masih kurang peka kepada sekitar. Tapi hasil foto yang saya capture menurut saya lumayan baik, walaupun ada beberapa yang blur.

Setiap momentum hanya terjadi satu kali, dan kita sebaiknya menggunakan momentum itu sebaik baiknya. Ketika satu momen hilang, kecil kemungkinan untuk momen yang sama itu datang lagi. Momen bagus yang dilewatkan begitu saja rasanya sangat saya sayangkan. Itulah mengapa kita harus peka kepada lingkungan. Menyadari apa yang terjadi di sekeliling.

Sampai hari ini saya masih terus belajar untuk lebih peka kepada lingkungan. Ya mudah-mudahan tingkat kepekaan saya kepada sekitar dapat meningkat.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

4 comments:

  1. Amin, smoga kepekaan kamu trhdap lingkungan makin meningkat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiiin, semoga kita semakin peka ya muthi :D

      Delete
  2. gue paling seneng kalo ambil foto pas orang atau objeknya nggak sadar kamera. bagi gue, hasilnya paling indah pas saat itu. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, saya juga. gak ada jaim-jaimnya. candid camera gitu ya namanya :D

      Delete